Kamis, 29 September 2011

Tentang Pernyataan dan Jawaban

Sore tadi aku mencoba menantang temanku yang jago menulis juga irma namanya, sering kukatakan padanya kalo dia salah profesi hanya menjadi wanita karir disebuah perusahaan ternama, harusnya dia sudah menghasilkan banyak karya dibalik tulisan-tulisaannya.

Cerpen yang kutulis tadi sore berjudul pernyataan, cerpen itu ditulis berdasarkan sudut pandang cowok, nah yang ini adalah jawaban yang ditulis dari sudut pandang cewek. Tapi untuk lebih lengkapnya kutulis ulang lagi cerpenku dan kuduetkan dengan cerpen jawaban milik irma.

Sebuah Pernyataan


kamu terdiam, aku gelisah

lagu yang diputar sedari tadi mendadak berubah menjadi tidak merdu, kopi yang kausajikan pun menjadi pahit sekali. Sesuatu didalam ruangan ini terlalu menyakitkan bagiku, entah karena kopi ini yang terlalu pahit, atau cintaku yang terlalu pahit untuk ini.

apakah ada yang salah dengan kata-kataku tadi? aku merasa tidak nyaman dengan diriku sendiri. Segalanya mendadak berubah menjadi absurd bagiku.aku pikir kamu juga suka padaku, bukankah kita sudah terlalu dekat sebagai teman?

kamu tidak memberikan jawaban apa-apa. aku hanya diam saja. kamu tak mengatakan apa-apa, membuka pintu kamar, memasuki kamarmu, dan menutupnya kembali. aku hanya berdiri mematung diluar, menunggu beberapa saat siapa tahu kamu berubah pikiran.

Ke dlm perasaan inilah engkau, aku akan bermuara. Tak pelu lagi penjelasan, aku tahu apa yg kau rasa, dan aku tahu apa jawabannya.Tak juga kupaksakan setitik pengertian, bahwa ini adanya,cinta yang tak lagi sama.Kutahu, cinta ini tersendat, dan hatiku spt mau mati pengap.

Aku percaya kamu lebih sakit lg krn tdk bs mengucapkan apa yg hrsnya kamu ucapkan.

kamu tetap di dalam dan aku tetap diluar

*************************************************************************************

Sebuah Jawaban


Aku benci sebuah pernyataan. Lebih benci lagi pada pertanyaan. Apa kau butuh jawaban? Atau itu hanya caramu meluapkan apa yang selama ini mengendap lama dalam hatimu demi sepercik kelegaan?

Aku tidak bodoh. Aku tahu pasti bahwa segala kata, langkah, mata dan gerakmu, semua bermuara pada satu. Sebuah jawaban. Sesuatu yang kau pikir aku punya. Tapi kau liat sendiri, aku hanya diam. Seperti tiap sulur darahku tengah mencari lewat celah-celah hati seraya berteriak kencang dan akhirnya menggema ke seluru ruang hati ini. Namun tetap tak kutemukan. Sebuah jawaban yang kau cari.

Jika saja kau bisa memahami. Kau adalah semarak yang memberi cerah pada sepiku. Kau adalah detak yang mampu memacu jantungku untuk untuk tetap hidup. Kau adalah cahaya yang membuat mataku tetap terjaga menatap mimpi-mimpiku, tapi langkahmu tertahan di sudut pintu hatiku yang tertutup rapat. Tak ada celah di sana. Pahitnya masa laluku yang telah menguncinya rapat-rapat.

Aku ini si pelupa, tapi ingatanku selalu ada pada luka itu. Luka yang akhirnya membuatku takut untuk terjatuh lagi. Kau tahu? Jatuh cinta itu menyebalkan. Seringkali kita tidak pernah sadar kapan harus terbangun dari jatuh.

Baik, ini bukan sebuah jawaban. Aku lihat kau tetap diam menanti diamku. Aku tidak punya sebuah jawaban yang kau cari. Aku hanya punya penyangkalan, dan kita tahu kau tidak butuh itu.

Dalam diamku, aku menahanmu untuk tetap di sini. tetap menanti di sudut pintu hatiku. tetap menjadi detak, cahaya, warna dan semua yang mampu membuatku tetap hidup. Jangan bertanya tentang waktu. bukankah denganku waktu seperti berlari kencang? bukankah denganku kau tidak perlu lagi membunuh penat? bukankah hatimu cukup sabar untuk membiarkanku merangkai satu demi satu huruf menjadi sebuah rangkaian jawaban?

1 komentar: