Selasa, 27 September 2011

Bukan Salah Profesinya


Apa yang terngiang dalam benak kalian jika mendengar professi yang satu ini "Polisi", tentunya banyak dari kita yang banyak tidak suka dengan image yang satu ini, image tukang stop di jalan mencari-cari banyak kesalahan biasanya sudah identik dengan profesi yang satu ini, padahal karo menurutku itu hanya ulah oknum, banyak dari mereka masih baik dan tidak suka dengan hal-hal mencari-cari kesalahan.Tak juga dengan pengalaman pagi ini.

Pagi ini seperti biasanya aku mengayuh sepedaku dari tempat kos untuk berangkat kerja. Jarak antara kosku ke kantor memang tidak begitu jauh, maka dari itu aku lebih senang membeli sepeda daripada harus membeli motor. Alasanku karena selain jarak tempuh yang dekat, juga karena tak mau mengotori bumi lombok yang indah ini dengan polusi, toh kata dokter yang kemaren yang berkunjung ke kantor mengatakan kalau orang hidup itu harus wajib punya sepeda, karena apa, karena dengan bersepeda selain menyehatkan ternyata itu juga berguna bagi kesehatan sendi-sendi kita.

Nah balik lagi ke profesi "polisi ". Tadi pagi seperti biasa ketika aku menuju kantor jalan idikantorku memang padat, karena memang jalan itu adalah jalur utama bagi pengendara motor, mobil serta cidomo (semacam dokar). Jadi tak heran jika waktu pagi hari jalan itu padat sekali karena berbarengan dengan jam kantor dan jam sekolah.

Nah ceritanya pagi ini aku kesulitan untuk menyeberang ke kantor karena jalanan sangat padat, dengan sigap polisi yang menjaga lalu lintas langsung menyetop semua kendaraan yang akan lewat dan membantu menyeberangakan aku. Mungkin diantara kalian menganggap ini sepele, tapi bagiku bapak polisi ini sangat berjasa padaku. Diantara beribu-ribu orang pengendara motor dan bahkan banyak dari kita tidak peduli dengan pengendara sepeda, bapak ini sangat peduli. Jangankan untuk peduli paa pengendara sepeda, banyak diantara kita mungkin tak peduli dengan sampah yang dibuang sembarangan juga (loh kok nyampe sampah dibuang).

Teringat pengalamanku beberapa tahun lalu ketika jaman kuliah, waktu itu aku pergi bersama kawan2ku kuliah ke kota jogja, nah masalahnya ketika hendak pulang ke semarang aku tak tau jalan dan aku malah terpisah dengan rombongan teman-temanku, maka kuberanikan untuk bertanya ke pos polisi terdekat (waktu itu pukul 20.00 WIB), kutanya pada pak polisi di pos itu dengan menggunakan bahasa jawa

Aku : "pak bade tanglet nek dalan bade teng semarang lewate pundi nggih?"
Polisi : "Lah njenengan memange saking pundi mas?"
Aku : " Kulo wau saking jogja pak, lha dek wau teng jogja bareng rencang2 nanging niki malah kepencar saking rencang2 e kulo"
Polisi : "Lha saiki rencang2 e njenengan saiki sampun tekan ndi mas?"
Aku : "Kulo wau sampun telp lha rencang2 e kulo sampun tekan daerah secang pak?"
Polisi : " Nggih pun mas, rencange di telp malih , dipun ngentosi, mangke kulo anterke njenengan tekan secang"
Aku : "matursuwun sanget pak"

maka langsunglah bapak polisi yang baik hati ini mengantarkanku dengan motor patrolinya sampai ke secang, padahal mungkin banyak diantara kita kalo mau mengantarkan orang yang tak dikenal apalagi jarak jogja secang itu lumayan jauh, sekitar 2 jam perjalanan. Pasti kebanyakan g mau nya.

Banyaka dari kita mungkin hanya menjudge satu profesi hanya dari satu sikap petugasangnya yang kurang baik, tapi sesungguhnya bukan pekerjaan itu yang salah, tapi orang atau oknum di dalamnya yang salah. Maka aku harap kalian lebih melihat sesuatu lebih obyektif, karena sudah sifat manusia ada yang baik dan buruk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar