
Kali ini saya mau menampilkan cerpen yang bukan karya saya, saya mau bercerita lagi tentang teman sekantor ku yang satu ini herpiko dwi adiguno, cuman kali ini aku cuman mau mencuplik salah satu karyanya yang terinsprirasi dari Bapak Penjaga malam di kantor kami.
Untuk urusan tulisan tulis menulis, tak perlu di tanyakan lagi, karya2nya sudah pernah dibuatkan novel dengan judul "aku ingin masuk surga", cerpen yang lainnya yang berjudul "aku bukan ismail" pun pernah di filmkan. Selalu kagum dengan bocah yang satu ini. Dan akhir kata selamat menikmati.
Foto untuk Bapak
“Bisa fotokan saya?” pinta Bapak itu, mengganggu keasyikan saya menjepret-jepret.
“Oh, tentu” kata saya sambil mengarahkan lensa ke wajahnya.
“Jangan di sini, saya ganti baju dulu.”
Saya jadi bingung, jadi kami mengobrol banyak sebelum memulai sesi potret untuknya.
Beliau adalah seorang petugas satpam di kantor saya, hampir 20 tahun mengabdi di sini sebagai penjaga malam. Tidak akan pernah diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil karena pendidikan formalnya tidak ada. Beliau sudah sangat tua dan kedua tangannya selalu gemetar. Perihal foto itu, ternyata beliau dijanjikan untuk dipromosikan untuk mendapatkan penghargaan dari negara karena sudah mengabdi sekian lamanya, hanya untuk jaga malam saja, dan dia diminta untuk menyerahkan foto dirinya yang dibingkai kayu dan kaca. Bagi orang yang suka begadang seperti saya, itu sungguh luar biasa. Begadang hampir 20 tahun!
Oh, lupakan tentang itu. Yang jelas, setelah mendengar banyak, saya pikir saya harus menyiapkan hal lain selain hanya kamera saja. Agaknya ini harus sedikit istimewa. Jadi, saya pulang untuk mengambil tripod dan perlengkapan lain, dan berjanji akan kembali malam harinya untuk memulai sesi potret.
Benar saja, ketika saya kembali, Bapak itu sudah berpakaian lengkap dengan seragam biru, lencana, sepatu yang sudah dipoles, serta sabuk yang mengkilat karena dibraso habis-habisan. Saya tertawa sambil menyarankan agar rileks dahulu sementara saya menyiapkan peralatan.
Tapi bapak itu tidak bisa diam. Beliau menghilang sebentar dan kembali membawa secangkir kopi untuk saya. Saya jadi malu dan berusaha serius memasang tripod.
“Sudah, pak.” kata saya sembari menyilakannya untuk berdiri di depan kamera. Saya ingin sekali bilang bahwa saya hanyalah fotografer amatir yang masih belajar dan saya tidak bisa menjanjikannya foto yang bagus. Tapi rasanya itu memalukan.
Karena ini kali pertama saya memotret orang bak dalam studio foto, saya merasa gugup sekali dan mendapati banyak sekali foto yang salah dan jelek.
Saat itu malam hari maka saya harus meningkatkan sensitifitas sensor yang berakibat berkurangnya kualitas gambar, beliau memiliki tangan yang gemetar karena usia tuanya maka saya tidak boleh menggunakan shutterspeed yang terlalu lambat, dan kamera saya bukan kamera yang bisa diandalkan. Benar-benar sulit dan menantang.
Tapi toh sesi foto itu selesai dan saya mendapati hampir 50 gambar foto dirinya yang sebagian besar adalah foto yang buruk karena kesalahan tangan saya maupun karena tubuh gemetar Bapak itu.
Saya memilih beberapa foto yang paling baik dan bertanya, “Kapan mau dicetak pak?”
“Saya minta filmnya saja. Nanti saya cuci sendiri di luar.”
Saya terkejut. Saya sedang memegang DSLR dan di kota saya segulung roll film sangatlah langka. Bapak yang sahaja ini ternyata tidak mengikuti zaman dan saya jatuh hormat atas kecuekannya terhadap dunia.
“Emm, ini tidak pakai film pak. Digital. Jadi langsung berbentuk file, err, atau berkas digital. Jadi bisa dicetak langsung. Pakai printer juga bisa.” kata saya sambil menunjuk printer di pojokan.
“Eh, boleh. Cetak sekarang kalau begitu.”
“Tapi di sini ndak ada kertas foto pak. Biar hasilnya bagus pakai…”
Dia menyisiri lemari dan menyomot selembar kertas A4 yang masih polos, “Pakai ini saja. Besar-besar ya.”
Saya tidak sampai hati menolak, jadi saya menghabiskan sisa malam itu untuk berkutat dengan tinta printer agar mendapatkan hasil foto yang baik hanya dengan kertas HVS A4. Lewat tengah malam, saya menghampirinya sambil menyodori dua lembar foto dirinya yang hasil cetaknya cukup baik, sedada dan seluruh badan.
Dia tersenyum bangga, berterima kasih, dan kembali menghilang sebentar. Lagi, secangkir kopi untuk saya.
***
Dua minggu kemudian, saya melirik tong sampah dan menemukan selembar kertas A4. Itu, foto bapak satpam dan warnanya sudah luntur. Bapak itu tidak pernah mendapatkan penghargaan yang dijanjikan kepadanya dan ia tidak berani bertanya-tanya pada atasannya. Saya? Saya juga tidak berani bertanya-tanya padanya perihal penghargaan itu.
Orang-orang memang mudah lupa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar