Selasa, 27 September 2011

Madre "Ibu"


Madre.. Tidak pernah terbayangkan cerita tentang roti pun bisa sangat menarik. I just can't put it down.. Tidak ada inspirasi, itu yang selalu menjadi alasan ketika saya ingin menulis. Tapi buku ini... Ah, sungguh menginspiras, Madre, lebih dari sekadar bicara tentang roti. Ini adalah passion. Seperti passion Tan dan Lakhsmi kepada roti, passion Tansen kepada kebebasan, dan passion Dee kepada menulis.Kenapa saya tidak bisa menulis seperti itu? Bukankah saya juga punya pengalaman mengunjungi toko roti.

Madre, buku yang berisi puisi dan prosa karya Dewi Lestari, telah habis saya baca dalam hitungan jam. Ada beberapa kisah (prosa) dan kontemplasi puisi dalm buku yang nggak terlalu tebal tersebut. Secara umum, saya suka karena memang saya penyuka Dee’s work. Tapi secara kritis saya menyukai tidak semua karya yang ada disitu.

Maka, saya menyimpulkan bahwa Madre adalah main course yang datang beberapa saat setelah Filosofi Kopi sebagai appetizer. Sebuah menu utama yang apik dan dramatik, merangkum realitas sosial dengan begitu luwes sekaligus jenaka. Dan saya kira, model narasi seperti ini hanya dimiliki, selalu dimiliki, oleh Dewi Lestari seorang. Selamat makan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar