Minggu, 25 September 2011

Aku ingin jadi sepertimu Bapak


Mungkin bagi kita semua ada sosok yang paling diidolakan, entah itu ustad, presiden tokoh film ato nabi (klo yang ini mmg harus). Aku mau bercerita kawan tentang bapakku, orang tua yang membesarkanku. Perkenalkan terlebih dahulu namaku adalah didik , aku adalah anak pertama dari 4 bersaudara. Jadi bayangkan sajalah mempunyai 4 anak sangatlah repot dan tentunya membutuhkan biaya yang banyak untuk menghidupinya.

Bapakku ini hanya orang kampung biasa, beliau anak petani sederhana, Bapakku hanya lulusan SMA, walaupun begitu aku selalu kagum kepadanya, ia banyak tahu akan semua informasi dan pengetahuan, begitupun juga beliau itu pinter menggambar, dlu waktu SD semua pekerjaan rumah prakaryaku selalu dia yang membuatkan. Setiap pulang sekolah kalau ada tugas prakarya aku cuman bilang

“bapak ada tugas prakarya”

Bapak tau aku anak yang kurang begitu mahir dalam berkesenian, maka tanpa bla bla bla TADA….jadilah sebuah prakarya yang sangat indah,entah itu lukisan,anyaman,ato lukisan dari bubur kertas. Dan percaya tidak percaya Prakarya hasil buatan bapakku selalu jadi yang paling bagus disekolah, hampir tiap tugas prakaryaku tak pernah kubawa pulng lagi, karena tugas prakaryaku selalu diminta pihak sekolah untuk dipajang, tanpa tau bahwa itu sebenarnya bukan hasilkaryaku tapi hasil prakarya bapakku.Bapakku tau kalo aku memang kurang begitu pandai dalam hal berkesenian,ia tak pernah bertanya apa lagi memarahi, karena baginya ia tahu bahwa setiap anak pasti punya kelebihannya masing-masing.

Disaat teman-temanku yang lain sering kena omel karena nakal dan sebagainya,di rumah kami Bapak selalu sayang sama anak-anaknya tak pernah keluar kata-kata kasar apalagi sikap kasar terhadap aku dan adik-adikku. Bapakku ini wajah dan hatinya lembut, kalo menasehati ia tak pernah membentak,ia selalu bertutur kata lembut. Masih ingat dulu ada tetangga kami teman sepermainanku waktu kecil tiap dia pulang telat bermain ato nilai sekolahnya jelek selalu ada gesper yang akan melayang di sekujur tubuhnya, Alhamdulillah aku bersyukur kepadamu Ya alloh kau berikan kepadaku bapak yang begitu santun dan lembut hatinya

Pernah dlu Bapakku bercerita bahwa dulu bapaknya yang juga kakekku tidak mengijinkannya bersekolah selepas SMP, karena keluarganya hanya orang kampung dan dimasa itu anak-anak sebaya Bapakku di kampungnya kalo selepas SMP harus mencari nafkah sendiri dengan bekerja ato dinikahkan sejak dini, tapi bapak lebih memilih untuk merantau ke kota, dikota ia bekerja sebagai pembantu teman, ya sebagai pembantu, agar ia dapat melanjutkan SMA, sebelum subuh dia sudah bangun untuk membersihkan rumah majikan,menyiapkan sarapan kemudian sholat dan mandi, baru kemudian berangkat sekolah, sore setelah pulang dari sekolah dia harus bekerja lagi sampai larut malam. Tapi Bapakku tak pernah mengeluh, bekerja bukan alasan untuk tidak tak berprestasi katanya, pernah ia perlihatkan kepadaku buku rapornya yang sudah buluk, lalu kulihat satu persatu halaman demi halaman aku Cuma bisa berkata “Subhanallah” membayangkan saja hatiku sudah bergidik, bagaimana seorang anak bisa dapat nilai rata-rata 8 padahal ia sembari bekerja, padahal aku saja yang cuman berleha-leha tak tuntas nilaiku pasti mentok di angka 7.

Selepas SMA bapak bercita-cita ingin jadi PNS katanya, diikutilah saringan penerimaan pegawai waktu itu, dari 1000 jumlah pendaftar hanya 6 yang dinyatakan lulus dan Bapakku termasuk satu didalamnya,pengumuman telah terpasang,namun yang terjadi adalah kebalikannya selesai pengumuman bapak mencari panitia untuk melapor, tapi jawaban panitia tak seperti yang diharapkannya, bagi peserta yang sudah dinyatakan lulus harap menyetor uang sebesar 250rb kala itu, tentu saja bapak tak punya pilihan lain karena memang dia tak punya uang, akhirnya posisinya digantikan anak seorang pejabat di pemda tersebut. Mulai saat itulah aku dalam hati selalu berjanji

“Aku harus bisa jadi PNS” untuk menebus rasa kekecewaan bapak.

Ada satu lagi sifat bapak yang sampai saat ini tak bisa ku ikuti, yaitu menabung, bapak gemar menyisihkan uang penghasilannya untuk ditabung, ia mempunyai cita-cita untuk bisa naik haji. Kalo ada penghasilan selalu ia sisihkan menjadi 3. Saat itu aku selalu bertanya
“Pak kok uangnya dibagi jadi 3”
Lalu Bapakku sambil tersenyum menjawab “ini yang satu buat kamu,ibu dan adik-adikmu, yang satu ini buat gusti Alloh, lha yang satunya lagi ini buat orang yang butuh uang ini”. Setiap ada penghasilan, selalu dibagi 3, Bapakku yang satu ini memang selalu membuatku terkagum-kagum Bapakku itu cuman seorang buruh dipabrik plastik, Pagi sampai sore dia bekerja di pabrik plastik, sore setelah pulang kerja ia bekerja serabutan, entah berdagang lalu pernah jadi kernet dsb. Tapi alhamdulillah benar kata Alloh “Man Jadda Wa Jadda” siapa yang bersungguh-sungguh ia akan memetik hasilnya, Dari pekerjaan sampingannya itu bapak berkenalan dengan pengembang perumahan, dari sana dia belajar tentang bisnis makelar Tanah, dari sana dia mulai merintis usahanya jadi makelar tanah dan rumah, dan dari usahanya tersebut aku serta adikku-adikku dapat bersekolah dan hidup dengan layak, dan akhirnya Pada tahun 2010 kemaren Alhamdulillah bapak dapat menjalankan impiannya.ya,,impian yang selalu dipendamnya dengan membagi uang menjadi 3 bagian bertahun-tahun ia akhirnya berkesempatan menjadi Tamu Alloh ditanah suci, setelah perjuangan panjangnya Alloh menjawab semua doa-doanya, doa rintihan air mata yang sering kudengar kala tengah malam ketika bapak Sholat Tahajud,.

Dan akhirnya Mimpi itu terjawab sudah Bapak naik haji ketika aku telah menamatkan S1 ku disebuah universitas dikota Semarang. Masih ingat dengan janjiku, saat bapak naik Haji aku berkesempatan ikut Tes CPNS kementerian Pertanian, dan Alhamdulillah aku diterima di Kementerian Pertanian. Setelah Bapak pulang aku certiakan padannya bahwa aku lulus tes Ujian Masuk Penerimaan CPNS Kementerian Pertanian, Kami lalu menangis sesenggukan berdua.”Maka Nikmat Tuhanmu Yang Mana yang kamu Dustakan”.Sesungguhnya Alloh Tau, dia hanya menunggu..ya dia hanya menunggu saat yang tepat untuk menjawab semua doa-doamu.

Kini 5 bln sudah aku hidup di kota mataram, Kota indah di pulau lombok, hampir tiap akhir pekan aku telp Bapakku, menceritakan tentang keadaanku.Bapak dalam hatiku aku selalu cinta engkau, seperti Ismail cinta pada Bapaknya Ibrahim, aku mau jadi seperti engkau, meneruskan cita-citaku pada anak-anakku kelak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar