
Terdapat banyak emosi di dalam penantian. Menunggu itu bukan kesalahan. Tetapi jika menunggu sesuatu yang tidak pasti apa itu juga bisa disebut kesalahan? entahlah. Banyak kebingungan, ya. Kebingungan yang menyergap ketika kita ada di dalam penantian. Mungkin itu tadi, kebingungan itu datang supaya kita dapat memilih, apakah kita akan terus menanti atau membuat hati kita berhenti menanti.
Pertanyaannya adalah sedalam apa kamu pernah mencintai seseorang? Jawabannya hanya kamu sendiri yang tahu. Bagi saya pertanyaan sedalam apa? akan dijawab dengan saya mencintai sampai saya tidak lagi mencintai. Rasa cinta saya habis—selesai hanya pada orang itu. Lalu yang tersisa adalah kesetiaan, ketika menanti. Tak ada yang bisa dipegang. Selain setia. Percaya atau tidak, bisa jadi orang yang sedang kita nanti, tidak setia. Ia malah melakukan sebaliknya. Tapi setia kepada cinta itu sendiri, bukankah jauh lebih tinggi nilainya?
Selanjutnya ketika kita tahu yang dinanti ternyata tak sama dengan kita, ada rasa marah. Marah kepada siapa? Marah kepada waktu yang tidak juga berpihak kepadamu. Marah kepada Tuhan sang pemilik waktu. Marah kepada diri sendiri yang ternyata tidak cukup sabar. Atau bisa jadi rasa marah itu datang begitu saja. Mengendap. Membuatmu hanya bisa diam berhari-hari. Selesai itu, segala sesuatu diselesaikan dengan damai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar