Senin, 26 Desember 2011

Peluk Tererat


Matanya pernah berkaca-kaca, kemudian menangis dalam dekapan hanya karena akhirnya menjumpaiku. Bagaimana aku tidak merindu? Sering kukatakan padanya, “Sempatkan diri memeluk aku! Karena nanti, ada banyak waktu untuk aku mengingatmu dari kejauhan.”

Aku pikir ada benarnya. Jika memang nasib harus diadu, semoga ia bisa bersabar di atas tanah! Tidak lelah sebut namaku, di dalam doa dan pula hati! Mendampinginya itu inginku, menemaninya itu harapku. Bila tak erat waktu mengikat hati, biar ia memegang saja jerit hati yang syukurnya mampu terucap jelas, bahwa kepadanya aku kembali. Demikian sesaat sebelum aku pergi, akan kukatakan padanya dengan membisik.

“Kekasih, kaulah peluk tererat yang aku harap sebelum melangkah! Aku mencintaimu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar