
Aku ingin ditalipitakan Tuhan di hari ulang tahunmu. Aku ingin jadi sepatumu yang kamu kenakan, yang membuatmu tampak semampai, meski harus kau lepas saat naik ke tempat tidur. Jika kau tak marah, aku juga ingin mencicip bedak yang melekat pada wajahmu dengan kecupan. Dan lagi, akupun ingin jadi motormu, meski sering tak sengaja kau bawa aku menghajar lubang, namun aku tetap menunggumu di tempat parkir, dan aku terkunci aman.
Sayang, aku ingin jadi Facebookmu, tempatmu bercerita tentang apapun. Aku ingin jadi bacaanmu, sesuatu yang tidak kamu lupa saat kamu merasa sepi. Aku ingin jadi charger handphone-mu, sesuatu yang sering kau cari-cari. Aku ingin jadi apapun asal kau senyum.
Kadangkala, aku teringat hal-hal kecil, sampai aku ingin kita melahap nasi Padang bersama-sama, sampai aku menjadi kagum pada sebutir nasi yang menempel di dagumu. Dan aku ingin menatap matamu saat kita duduk di dalam angkot, kemudian ibu-ibu di sebelahmu menjadi ingat masa mudanya.
Tetapi entah kapan kau butuh aku, lalu kapan kau cari aku, dan sampai kapan kau begitu? Aku hanyalah sebutir pasir di pinggir pantai, dan telapak kakimu saja yang aku rindukan. Aku menyapa, sesekali aku melucu. Kau tahu? Aku telah banyak mencari cara agar setidaknya bisa melintas di kepalamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar