Senin, 26 Desember 2011

Bintangnya Ayah

Aku membayangkan dua bintang yang bercahaya di atas aku, itu tatap bangga sesosok ayah, terang cinta yang seangkasa. Tetiba hamparan sinar yang berkumpul di langit membuatku ingat tetes keringat ayah, itu bebutiran terang tentang betapa aku anaknya yang nakal ini begitu penting bagi hidupnya.

“Kaulah ayahku, tidak ku malu mengakuinya!”

Biar gemetar dua kakiku saat menjauh dari pesannya. Karena beliau ayah yang aku hormati, yang tak terukur jasa-jasanya! Apapun yang akan aku lakukan, aku mengingat ayah, lagi sebagai panutan aku berjuang, pula idola yang kusayangi. Sesungguhnya aku ingin menjadi alas bagi beliau ayahku yang membanting tulang, sementara matanya melotot supaya aku rajin sekolah.

“Wahai ayah yang ibu cintai, kepala keluarga yang aku dengarkan, tebal terpahat di dinding hati, nama yang besar dan itu engkau.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar