Kamis, 19 April 2012

Halte


Entah kenapa aku begitu suka halte. Aku menyukai konsep menunggu, singgah sebentar, berangkat lagi. Ada aktivitas yang dilakukan di tempat kecil seperti halte. Kadang selewat, tapi halte bagiku mengandung filosofi tertentu.

Aku tidak terlalu suka dengan keriuhan. Jika kepala ini sedang riuh, biasanya aku memutuskan untuk berjalan sendiri. Berjalan kaki itu selalu menguntungkan. Berjalan kaki juga biasanya membantuku bercakap dengan diri sendiri.

Entah kenapa aku sering menyempatkan diri untuk berjalan kaki ke halte. Halte itu manis pikir saya. Jika lewat halte, ia seperti menyapa saya. Ia menarik pantatku untuk duduk diatasnya.

Aku sering duduk sebentar di halte. Melihat beberapa aktivitas angkot yang lewat. Mengamati orang yang turun naik dari angkot. Melihata perempuan di sebelah saya yang sedang melamun. Dan Pak polisi dengan mobilnya di seberang jalan.

Sembari duduk, aku membayangkan kalau halte itu adalah hati. Sepanjang hidupmu kau banyak menunggu, ada orang yang keluar masuk, singgah sebentar, duduk-duduk, mengamati, kadang melamun, dan kemudian berangkat lagi.

Setiap orang yang duduk di halte, belum tentu punya tujuan. Tapi ada juga yang sudah mempunyai tujuan. Atau ada juga yang hanya kepingin duduk, seperti aku.

Begitupun dengan hati, kadang ada yang mampir di hatimu, tanpa tujuan. Atau kadang justru mereka punya banyak tujuan.

Aku tidak terlalu peduli. Yang penting hati saya lega, walau mata saya basah. Tulisan ini mau saya dedikasikan kepada bus kota yang waktu itu lewat ketika saya duduk di halte.

Mereka seperti menyuruhku untuk melepaskan. Begitupun hati, kadang kau harus belajar untuk melepaskan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar