Senin, 09 April 2012

Atap Rumah


Aku ini adalah lelaki yang sangat menggemari atap rumah. Aku suka duduk di sana berjam-jam menunggu dan menunggu. Aku suka duduk di sana sepanjang hari, lalu menjelang maghrib biasanya aku turun ke rumah.

Tapi besoknya aku ke sana lagi. Mengulangi hal yang sama, begitu terus setiap kali. Aku suka sekali berbicara dengan dahan-dahan. Lalu kadang berbisik-bisik dengan angin. Atau tertawa dengan burung gereja.

Hmm.. Mungkin semacam berbagi rahasia. Ya, aku punya rahasia yang selama ini aku tutup rapat-rapat. Entahlah, aku hanya takut kalau rahasia ini terbongkar. Jadi aku memilih untuk mencintai atap rumah dan bercerita dengannya.

Mari aku perkenalkan atap rumah yang satu ini, kalau dilihat dari kejauhan ia memang sedikit rapuh. Kulitnya sudah mulai terkelupas. Warna catnya juga sudah memudar. Tapi aku menyukainya. Aku suka tampilannya yang tua.

Lalu saya mulai bercerita kepada bangku taman itu. Cerita sepele yang mungkin lebih baik tidak usah aku tulis di sini. Cerita-cerita menyenangkan yang selalu membuatku senyum-senyum sekali. Tiap kali mengingatnya. Ah, lagi-lagi aku berganti. Tapi aku menikmatinya. Lalu aku akan bercerita tentangmu. Ya, kamu.

Mungkin kamu yang aku tunggu-tunggu. Mungkin karena wangimu yang selalu menggoda. Mungkin karena senyummu. Mungkin karena pengertianmu. Mungkin karena kamu yang tidak rusuh sepertiku. Mungkin karena kamu begitu terbalik. Begitulah aku, selalu menyukai sesuatu yang terbalik.

"Kamu tahu kan, jalan ke rumahku. Main ke sini yuk. Supaya aku tidak sendiri lagi."

Mungkin kamu yang sedang aku tunggu, untuk berbagi sore. Lalu kita di sana duduk di atap rumah.

Berciuman lama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar