Selasa, 14 Februari 2012

Rintik


Rintik hujan begitu tipis.

Mengganggu pemandangan kita. Yang sedang saling bergandengan tangan, pipi bertemu pipi, menginginkanmu dengan sangat. Tidak ada toleransi tentang ini.

Dan saat ini kita saling bertatapan, kamu bisa melihat bening mataku dengan jelas bercampur dengan air mata, bahkan air mata ini pun menginginkanmu dengan sangat. Aku menginginkanmu! dengan seluruh jiwa dan air mata.

Kamu tertawa. Tawa yang khas. Tawa yang selalu buatku bahagia. Di sana aku bisa melihat mata kamu yang biasanya sendu begitu ceria. Karena mata itu yang membuatku begitu jatuh cinta. Aku memilih mata itu dari semua mata yang pernah kutemui. Kenapa? ah, jangan pernah tanya kenapa. Jatuh cinta titik. Tidak pernah aku kepikiran alasan yang lain.

Kamu bingung. Melihatku dengan tatapan bertanya seperti “kok bisa?” Tentu saja “bisa” begini: seperti rintik hujan tipis di luar, kenapa mereka memilih untuk jatuh?

Dan kali ini, kamu memandangku dengan tatapan semakin aneh. Kamu bilang bahwa aku gila. Aku adalah orang gila yang mungkin terlalu jatuh cinta kepadamu. “MUNGKIN?” spontan aku meneriaki kata itu keras diantara hujan tipis dan jaket serta pakaianmu yang kini mulai basah.

Tak ada kata “MUNGKIN” ketika aku bilang cinta kepadamu. Kecuali jika kamu sendiri yang tidak percaya.

Terserah.

Lalu kamu masih melongo dengan binar mata yang sama.

“Boleh aku cium mata kamu?”

Kamu mengangguk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar