Kamis, 12 Januari 2012

Pinta


Adakah kaki malaikat yang sudi menendang aku sampai benar-benar masuk dalam hatinya? Aku ingin melihat senyum Tuhan saat ia terselip dalam doaku.

“Tuhan, bungkuslah jiwaku, tali-pitakan jantungku, hadiahi hidupnya!”

Demikian aku berdoa. Siang dan malam. Aku ingin menyentuh tangannya saat hatiku disentuh Tuhan. Pula seusai aku datang pada Tuhan, aku ingin datang padanya. Aku meminta kepada Tuhan;

“Tuhan, tulis namaku, kirimkan padanya!”

Demikian doaku juga. Aku ingin Tuhan menjatuhkan lututku di atas tanah hatinya, kemudian mulutnya membuka, dan lalu memuji Tuhan.

“Amin.”

Cinta dan Resiko




Dalam hidup ini tak ada yang mudah. Setiap perjalanan yang dilalui penuh dengan resiko. Seperti ketika kau tidak membawa payung, mendung hebat, hujan lebat. Kau akan tertahan di kantormu sementara. Resiko tidak dapat disalahkan. Resiko mengikutimu. Ia seperti bayanganmu sendiri.

Ia berjalan kemanapun kau pergi. Kemana hatimu singgah. Walaupun terkadang itu adalah pekerjaan iseng. Resiko tidak pernah iseng menjadi resiko. Ia akan melakukan pekerjaannya dengan sepenuh hati. Patah hati mungkin adalah resiko ketika mencintai seseorang terlalu. Atau bisa jadi hanya kejadian sederhana, patah hati hanya karena diturunkan dari angkot dan belum sampai ke tempat tujuan.

Tapi pernahkah kau berpikir mencintai tanpa resiko? Jarang sekali. Tapi terjadi. Bahkan walaupun itu cinta masa kanak-kanak. Kau bisa berangkat ke sekolah terburu-buru bawa bekal roti isi dua. Untukmu dan untuknya. Meminjam peruncing dan pensil miliknya, sesering mungkin, punyamu sendiri disimpan dalam-dalam di tas. Pura-pura tidak bawa. Bermain dengannya hanya memakai kolor dan kaus dalam tanpa takut diajak ke tempat tidur.

Tapi bahkan mencintai seperti anak kecil pun penuh resiko. Suatu ketika kau harus pindah mengikuti orang tuamu, meninggalkannya. Suatu ketika, kau tidak boleh lagi main ke rumahnya karena mamanya takut, kalian akan main bakar-bakaran. Suatu ketika dia lupa membawa pensilnya dan kau tak bisa meminjamnya lagi.

Bahkan pada cinta yang paling polos sekalipun resiko mengikuti.

Kejam. Tak ada yang sederhana. Tak ada yang hanya polos-polos saja. Mencintai seperti anak kecil, menangis hari ini, tetapi besok bermain lalu jatuh cinta lagi.

Tanpa dendam.

Rabu, 11 Januari 2012

Bahagia Itu Sederhana


Menyukai kengawuran dan bermain-main. Tidak semua yang serius itu baik. Terlalu banyak bermain pun tidak baik. Ada baiknya begini, bermain-mainlah dengan serius. Aku suka tidak tega melihat banyak orang-orang di sekitarku yang lupa caranya bermain-main. Padahal sederhana saja, tinggalkanlah sepatu mahalmu lalu berjalan dengan kaki telanjang.

Siang itu aku duduk dengan mendung, lalu berpikir kalau hujan turun aku ingin berlari-lari telanjang kaki, meminum hujan sampai habis, lupa kalau saat itu aku sedang bindeng dan sedikit masuk angin. Hanya ingin merasakan air hujan merembes ke baju tipisku. Tersenyum lebar saat hujan kena pelipis.

Bermain dan bahagia. Aku ingin menjalaninya dengan serius. Ini hanya tekad, bulat, dan kokoh. Bermain dengan tidak tergesa-gesa, harus buru-buru pulang. Aku ingin melakukannya lama-lama. Menikmati setiap senyum, utuh, pelan, supaya aku bahagia.

Bahagia kenapa? bahagia kalau kesal ini sudah reda dan hati berubah menjadi manis. Kamu boleh, siapapun boleh mencicipinya, karena memang bahagia itu begitu terbuka. Tidak perlu sembunyi. Sudahlah, bahagia dan menikmatinya itu mungkin adalah hal paling sepele yang saat ini sering terlupa.

Masihkah kamu melihat anak-anak bermain petasan lama-lama, tapi sekarang belum musim lebaran. Memperhatikan semut di dekat jempolmu. Menghirup wangi rumput basah dalam-dalam. Tertawa kencang-kencang sampai keluar air mata. Membuka jendela lebar-lebar. Menulis sampai pagi. Mengintip gerakan ikan di aquarium. Flirting kembali.. lalu jatuh cinta kembali.

Ketika melakukannya, aku tak perlu uang banyak.

Aku cukup meminta kepada Tuhan. Pemberi kebahagiaan kekal, bahwa aku ingin bahagia dari hal-hal sederhana. Tidak sulit, bukan?

Lalu melihat ia tertawa. Begitu manis. Bikin aku bahagia sampai ke sum-sum tulang belakang.

Kau Mencukupkan Aku


Akulah bagianmu dan kaulah hidup.
Kau tegaskan aku lewat mata yang menutup
Menjiwaiku dengan rasa yang tak redup
Kaulah cinta dan itu cukup.

Ada Dibalik Aku


Terkadang aku ingin tertawa meski entah apa yang lucu, hanya agar kau tidak melihatku menangis dan menjadi ikutan sedih.

Kadang


Manusia tidak selalu, tetapi selalu bukan berarti tidak manusia. Seringkali wanita bagai kejora, terlihat lebih terang di tengah-tengah, yang artinya lebih dekat dari letak bintang yang lain, padahal tetap saja jauh sekali.

Kepadaku dan Hanya Aku


Ada satu hal, keadaan yang sebenarnya belum kau jalani betul, itu cinta yang kamu punya, kepadaku dan hanya aku.