Kamis, 29 September 2011

Daniel Powter - Free Loop


I'm a little used to calling outside your name
I wont see you tonight so I can keep from going insane
But I don't know enough, I get some kinda lazy day
Hey yeah

I've been fabulous through to fight my town a name
I'll be stooped tomorrow if it suits you just the same
But i dont know enough, I get some kinda lazy day
Hey yeah

Cause it's hard for me to lose
In my life I've found only time will tell
And I will figure out that we can baby
We can do a one night stand, yeah

And it's hard for me to lose in my life
I've found outside your skin right near the fire
That we can baby
We can change and feel alright

I'm a little used to wandering outside the rain
You can leave me tomorrow if it suits you just the same
But I don't know enough, i need sun when it leaves the day
Hey yeah

Cause it's hard for me to lose
In my life I've found only time will tell
And I will figure out that we can baby
We can do a one night stand, yeah

And it's hard for me to lose in my life
I've found outside your skin right near the fire
That we can baby
We can change and feel alright

Cause it's hard for me to lose
In my life I've found only time will tell
I will figure out that we can baby
We can do a one night stand, yeah

And it's hard for me to lose in my life
I've found outside your skin right near the fire
That we can baby
We can change and feel alright

Cause it's hard for me to lose
In my life I've found only time will tell
And I will figure out that we can baby
We can do a one night stand, yeah

And it's hard for me to lose in my life
I've found outside your skin right near the fire
That we can baby
We can change and feel alright

Kau Tak Sendiri




Hatimu tertinggal di belahan duniamu yang lama, sayu matamu kosong seakan tak ada lagi pengharapan di masa depan. Bangku disampingmu masih terus saja kau biarkan kosong, karena kau lebih suka menantikan hantu di masa lalumu.

Bukankah kau selalu bercerita bahwa kau benci hantu di masa lalumu, ah,,tapi kenapa bagai orang bodoh kau tak hiraukan hidangan yang tersaji didepanmu setiap waktu.

Hening...lalu kau mulai ragu, ragu akan keyakinan selama bertahun-tahun. Bahwa kau mampu menaklukkan hatimu.

Kenapa tak kau coba berdiri kemudian berlari, berlari hingga hilang pedih perih. Karena kau akan tau, bahwa ada seseorang yang akan menunggumu di ujung sana.

Dan kala itu terjadi nanti, yakinlah kau tak pernah sendiri

Tentang Pernyataan dan Jawaban

Sore tadi aku mencoba menantang temanku yang jago menulis juga irma namanya, sering kukatakan padanya kalo dia salah profesi hanya menjadi wanita karir disebuah perusahaan ternama, harusnya dia sudah menghasilkan banyak karya dibalik tulisan-tulisaannya.

Cerpen yang kutulis tadi sore berjudul pernyataan, cerpen itu ditulis berdasarkan sudut pandang cowok, nah yang ini adalah jawaban yang ditulis dari sudut pandang cewek. Tapi untuk lebih lengkapnya kutulis ulang lagi cerpenku dan kuduetkan dengan cerpen jawaban milik irma.

Sebuah Pernyataan


kamu terdiam, aku gelisah

lagu yang diputar sedari tadi mendadak berubah menjadi tidak merdu, kopi yang kausajikan pun menjadi pahit sekali. Sesuatu didalam ruangan ini terlalu menyakitkan bagiku, entah karena kopi ini yang terlalu pahit, atau cintaku yang terlalu pahit untuk ini.

apakah ada yang salah dengan kata-kataku tadi? aku merasa tidak nyaman dengan diriku sendiri. Segalanya mendadak berubah menjadi absurd bagiku.aku pikir kamu juga suka padaku, bukankah kita sudah terlalu dekat sebagai teman?

kamu tidak memberikan jawaban apa-apa. aku hanya diam saja. kamu tak mengatakan apa-apa, membuka pintu kamar, memasuki kamarmu, dan menutupnya kembali. aku hanya berdiri mematung diluar, menunggu beberapa saat siapa tahu kamu berubah pikiran.

Ke dlm perasaan inilah engkau, aku akan bermuara. Tak pelu lagi penjelasan, aku tahu apa yg kau rasa, dan aku tahu apa jawabannya.Tak juga kupaksakan setitik pengertian, bahwa ini adanya,cinta yang tak lagi sama.Kutahu, cinta ini tersendat, dan hatiku spt mau mati pengap.

Aku percaya kamu lebih sakit lg krn tdk bs mengucapkan apa yg hrsnya kamu ucapkan.

kamu tetap di dalam dan aku tetap diluar

*************************************************************************************

Sebuah Jawaban


Aku benci sebuah pernyataan. Lebih benci lagi pada pertanyaan. Apa kau butuh jawaban? Atau itu hanya caramu meluapkan apa yang selama ini mengendap lama dalam hatimu demi sepercik kelegaan?

Aku tidak bodoh. Aku tahu pasti bahwa segala kata, langkah, mata dan gerakmu, semua bermuara pada satu. Sebuah jawaban. Sesuatu yang kau pikir aku punya. Tapi kau liat sendiri, aku hanya diam. Seperti tiap sulur darahku tengah mencari lewat celah-celah hati seraya berteriak kencang dan akhirnya menggema ke seluru ruang hati ini. Namun tetap tak kutemukan. Sebuah jawaban yang kau cari.

Jika saja kau bisa memahami. Kau adalah semarak yang memberi cerah pada sepiku. Kau adalah detak yang mampu memacu jantungku untuk untuk tetap hidup. Kau adalah cahaya yang membuat mataku tetap terjaga menatap mimpi-mimpiku, tapi langkahmu tertahan di sudut pintu hatiku yang tertutup rapat. Tak ada celah di sana. Pahitnya masa laluku yang telah menguncinya rapat-rapat.

Aku ini si pelupa, tapi ingatanku selalu ada pada luka itu. Luka yang akhirnya membuatku takut untuk terjatuh lagi. Kau tahu? Jatuh cinta itu menyebalkan. Seringkali kita tidak pernah sadar kapan harus terbangun dari jatuh.

Baik, ini bukan sebuah jawaban. Aku lihat kau tetap diam menanti diamku. Aku tidak punya sebuah jawaban yang kau cari. Aku hanya punya penyangkalan, dan kita tahu kau tidak butuh itu.

Dalam diamku, aku menahanmu untuk tetap di sini. tetap menanti di sudut pintu hatiku. tetap menjadi detak, cahaya, warna dan semua yang mampu membuatku tetap hidup. Jangan bertanya tentang waktu. bukankah denganku waktu seperti berlari kencang? bukankah denganku kau tidak perlu lagi membunuh penat? bukankah hatimu cukup sabar untuk membiarkanku merangkai satu demi satu huruf menjadi sebuah rangkaian jawaban?

Rabu, 28 September 2011

Foto Untuk Bapak (Sebuah cerpen Herpiko Dwi Adiguno)


Kali ini saya mau menampilkan cerpen yang bukan karya saya, saya mau bercerita lagi tentang teman sekantor ku yang satu ini herpiko dwi adiguno, cuman kali ini aku cuman mau mencuplik salah satu karyanya yang terinsprirasi dari Bapak Penjaga malam di kantor kami.

Untuk urusan tulisan tulis menulis, tak perlu di tanyakan lagi, karya2nya sudah pernah dibuatkan novel dengan judul "aku ingin masuk surga", cerpen yang lainnya yang berjudul "aku bukan ismail" pun pernah di filmkan. Selalu kagum dengan bocah yang satu ini. Dan akhir kata selamat menikmati.

Foto untuk Bapak

“Bisa fotokan saya?” pinta Bapak itu, mengganggu keasyikan saya menjepret-jepret.

“Oh, tentu” kata saya sambil mengarahkan lensa ke wajahnya.

“Jangan di sini, saya ganti baju dulu.”

Saya jadi bingung, jadi kami mengobrol banyak sebelum memulai sesi potret untuknya.

Beliau adalah seorang petugas satpam di kantor saya, hampir 20 tahun mengabdi di sini sebagai penjaga malam. Tidak akan pernah diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil karena pendidikan formalnya tidak ada. Beliau sudah sangat tua dan kedua tangannya selalu gemetar. Perihal foto itu, ternyata beliau dijanjikan untuk dipromosikan untuk mendapatkan penghargaan dari negara karena sudah mengabdi sekian lamanya, hanya untuk jaga malam saja, dan dia diminta untuk menyerahkan foto dirinya yang dibingkai kayu dan kaca. Bagi orang yang suka begadang seperti saya, itu sungguh luar biasa. Begadang hampir 20 tahun!

Oh, lupakan tentang itu. Yang jelas, setelah mendengar banyak, saya pikir saya harus menyiapkan hal lain selain hanya kamera saja. Agaknya ini harus sedikit istimewa. Jadi, saya pulang untuk mengambil tripod dan perlengkapan lain, dan berjanji akan kembali malam harinya untuk memulai sesi potret.

Benar saja, ketika saya kembali, Bapak itu sudah berpakaian lengkap dengan seragam biru, lencana, sepatu yang sudah dipoles, serta sabuk yang mengkilat karena dibraso habis-habisan. Saya tertawa sambil menyarankan agar rileks dahulu sementara saya menyiapkan peralatan.

Tapi bapak itu tidak bisa diam. Beliau menghilang sebentar dan kembali membawa secangkir kopi untuk saya. Saya jadi malu dan berusaha serius memasang tripod.

“Sudah, pak.” kata saya sembari menyilakannya untuk berdiri di depan kamera. Saya ingin sekali bilang bahwa saya hanyalah fotografer amatir yang masih belajar dan saya tidak bisa menjanjikannya foto yang bagus. Tapi rasanya itu memalukan.

Karena ini kali pertama saya memotret orang bak dalam studio foto, saya merasa gugup sekali dan mendapati banyak sekali foto yang salah dan jelek.

Saat itu malam hari maka saya harus meningkatkan sensitifitas sensor yang berakibat berkurangnya kualitas gambar, beliau memiliki tangan yang gemetar karena usia tuanya maka saya tidak boleh menggunakan shutterspeed yang terlalu lambat, dan kamera saya bukan kamera yang bisa diandalkan. Benar-benar sulit dan menantang.

Tapi toh sesi foto itu selesai dan saya mendapati hampir 50 gambar foto dirinya yang sebagian besar adalah foto yang buruk karena kesalahan tangan saya maupun karena tubuh gemetar Bapak itu.

Saya memilih beberapa foto yang paling baik dan bertanya, “Kapan mau dicetak pak?”

“Saya minta filmnya saja. Nanti saya cuci sendiri di luar.”

Saya terkejut. Saya sedang memegang DSLR dan di kota saya segulung roll film sangatlah langka. Bapak yang sahaja ini ternyata tidak mengikuti zaman dan saya jatuh hormat atas kecuekannya terhadap dunia.

“Emm, ini tidak pakai film pak. Digital. Jadi langsung berbentuk file, err, atau berkas digital. Jadi bisa dicetak langsung. Pakai printer juga bisa.” kata saya sambil menunjuk printer di pojokan.

“Eh, boleh. Cetak sekarang kalau begitu.”

“Tapi di sini ndak ada kertas foto pak. Biar hasilnya bagus pakai…”

Dia menyisiri lemari dan menyomot selembar kertas A4 yang masih polos, “Pakai ini saja. Besar-besar ya.”

Saya tidak sampai hati menolak, jadi saya menghabiskan sisa malam itu untuk berkutat dengan tinta printer agar mendapatkan hasil foto yang baik hanya dengan kertas HVS A4. Lewat tengah malam, saya menghampirinya sambil menyodori dua lembar foto dirinya yang hasil cetaknya cukup baik, sedada dan seluruh badan.

Dia tersenyum bangga, berterima kasih, dan kembali menghilang sebentar. Lagi, secangkir kopi untuk saya.

***

Dua minggu kemudian, saya melirik tong sampah dan menemukan selembar kertas A4. Itu, foto bapak satpam dan warnanya sudah luntur. Bapak itu tidak pernah mendapatkan penghargaan yang dijanjikan kepadanya dan ia tidak berani bertanya-tanya pada atasannya. Saya? Saya juga tidak berani bertanya-tanya padanya perihal penghargaan itu.

Orang-orang memang mudah lupa.


Sumber : pikopages.wordpress.com

Curhat Buat Sahabat - Dee



"...Tak ada yang muluk dari obat flu dan air putih. Tapi kamu mempertanyakannya seperti putri minta dibuatkan seribu candi dalam semalam."

Sahabatku, usai tawa ini
Izinkan aku bercerita:

Telah jauh, ku mendaki
Sesak udara di atas puncak khayalan
Jangan sampai kau di sana

Telah jauh, ku terjatuh
Pedihnya luka di dasar jurang kecewa
Dan kini sampailah, aku disini...

Yang cuma ingin diam, duduk di tempatku
Menanti seorang yang biasa saja
Segelas air di tangannya, kala kuterbaring... sakit
Yang sudi dekat, mendekap tanganku
Mencari teduhnya dalam mataku
Dan berbisik : "Pandang aku, kau tak sendiri,
oh dewiku..."
Dan demi Tuhan, hanya itulah yang
Itu saja kuinginkan

Sahabatku, bukan maksud hati membebani,
Tetapi...

Telah lama, kumenanti
Satu malam sunyi untuk kuakhiri
Dan usai tangis ini, aku kan berjanji...

Untuk diam, duduk di tempatku
Menanti seorang yang biasa saja
Segelas air di tangannya, kala kuterbaring... sakit
Menentang malam, tanpa bimbang lagi
Demi satu dewi yang lelah bermimpi
Dan berbisik : "Selamat tidur, tak perlu bermimpi bersamaku..."

Wahai tuhan, jangan bilang lagi itu terlalu tinggi

Sebuah Pernyataan


kamu terdiam, aku gelisah

lagu yang diputar sedari tadi mendadak berubah menjadi tidak merdu, kopi yang kausajikan pun menjadi pahit sekali. Sesuatu didalam ruangan ini terlalu menyakitkan bagiku, entah karena kopi ini yang terlalu pahit, atau cintaku yang terlalu pahit untuk ini.

apakah ada yang salah dengan kata-kataku tadi? aku merasa tidak nyaman dengan diriku sendiri. Segalanya mendadak berubah menjadi absurd bagiku.aku pikir kamu juga suka padaku, bukankah kita sudah terlalu dekat sebagai teman?

kamu tidak memberikan jawaban apa-apa. aku hanya diam saja. kamu tak mengatakan apa-apa, membuka pintu kamar, memasuki kamarmu, dan menutupnya kembali. aku hanya berdiri mematung diluar, menunggu beberapa saat siapa tahu kamu berubah pikiran.

Ke dlm perasaan inilah engkau, aku akan bermuara. Tak pelu lagi penjelasan, aku tahu apa yg kau rasa, dan aku tahu apa jawabannya.Tak juga kupaksakan setitik pengertian, bahwa ini adanya,cinta yang tak lagi sama.Kutahu, cinta ini tersendat, dan hatiku spt mau mati pengap.

Aku percaya kamu lebih sakit lg krn tdk bs mengucapkan apa yg hrsnya kamu ucapkan.

kamu tetap di dalam dan aku tetap diluar

Rain Yesterday

Tak sengaja kudengar lagi lagu itu, dari samping kamar kosku lagu yang dulunya aku tak tau dan acuh tak acuh, mungkin agak terlalu sombong tapi memang pada kenyataannya aku memang kurang suka dengan lagu dari band-band baru yang akhir2 ini menjamur bagai jamur di dataran tinggi subur.

Kisah ini bermula ketika aku melakukan Diklat Prajabatan bulan april 2011, nah secara tak sengaja aku bertemu dengan seseorang pengajar dalam diklat tersebut. Bapak Hani namanya dia bercerita tentang kisah hidupnya waktu masih mengenyam ilmu dibangku kuliah

Waktu itu pak hani kuliah di Institut Pertanian Bogor, ceritanya saat masa kuliah dia jatuh cinta pada sesorang gadis, adik angkatannya. Lama ia mengagumi gadis itu. Pak hani selalu mengirimkan surat pada gadis itu tapi tak secara langsung, surat itu ia titip kan pada temannya. Lama ia mengirim surat itu saling berbalas dengan gadis itu tanpa pernah bertemu dengan gadis tersebut, hal ini ia lakukan sampai ia menjadi PNS di Kementerian Pertanian.

Genap setahun ia menjadi PNS ia berkeininan untuk menyuting gadis tersebut, dan mengajaknya bertemu langsung. Tepat seminggu sebelum ia menyatakan maksudnya datanglah surat dari gadis tersebut, Surat berwarna merah muda seperti biasanya. Senang sekali hati Pak hani waktu itu. Tapi setelah dilihat-lihat surat itu berbeda dengan surat yang biasanya ia terima.

Bentuk surat itu aneh dari biasanya.Bentuknya persegi, dan lebih tebal kertas, yang tambah mengherankan lagi di dalamnya tertuliskan banyak nama dan nama keluarga. Hancur sudah hati Pak Hani waktu itu, karena yang diterimanya adalah surat Undangan Pernikahan Gadis Pujaannya dengan sahabat yang selalu mengantar surat untuk gadis itu dari Pak Hani.

Jika kalian pernah mendengar, inilah lagu itu

Taxi Band – Hujan Kemarin

Kemarin ku dengar
Kau ucap kata cinta
Seolah dunia
Bagai dimusim semi


Kau datang padaku
Membawa luka lama
Ku tak ingin seolah
Semua seperti dulu


Tak ingin lagi rasanya ku bercinta
Setelah ku rasa perih
Kegagalan ini membuat ku tak berdaya


Tak dapat lagi rasanya ku tersenyum
Setelah kau tinggal pergi
Biar ku sendiri tanpa hadirmu kini lagi

Hujan kemarin