Rabu, 04 Januari 2012

Bunyi "Tik-Tik"


Cinta itu seperti bunyi "Tik Tik" yang turun di atas genting.

Mungkin seperti lagunya Ibu Sud. Lagu tentang hujan yang paling sederhana sekaligus paling romantis, yang membuat terkadang jika mengingat hujan, juga ingat padamu. Yang ada maupun tidak ada. Yang pernah memberi rasa, maupun juga mengambil rasa. Tapi tidak lupa. Belum lupa.

"Tik Tik" jelas itu bukanlah bunyi biasa. Ia magis. Ia mendatangkan rindu kepada moment ketika bersama. Moment ketika berpisah. Mengingatkan masih kepada orang yang sama. Yang pernah ada namun sekaligus tidak ada.

Pagi ini ada "Tik Tik" di atas genting. Derasnya adalah rasa rindu. Rindu untuk bersama sekaligus rindu untuk berpisah. Bunyi yang mendatangkan perenungan panjang . "Adakah kebersamaan itu kekal?" atau "Kekekalan ada di dalam perpisahan?"

Jelas tidak ada jawaban. Belum ada jawaban.

Hanya bunyi "Tik Tik" di atas genting. Terlalu pagi ia datang. Terlalu cepat juga ia pulang.

Selasa, 03 Januari 2012

Pencuri


Aku selalu suka kalau jendela terbuka lebar begini. Supaya aku bisa mengendap-endap ke kupingmu dan berbisik kata "I LOVE YOU." Itu kata menggelikan yang saat ini gampang buat perutku mulas.

Aku akan menelusuri anak-anak rambutmu dengan jari-jari mungilku, lalu turun sebentar ke pelipismu. Menatap matamu dalam-dalam. Menelusuri pupil matamu, mencari binar cinta di sana.

Memangnya kalau jatuh cinta, harus ada binar di mata. Aku tidak tahu. Yang aku tahu ada binar di hati. Sebenarnya aku takut kalau ketahuan sedang jatuh ... cinta. Aku malu dengan keyboard dan layar di depanku.

Karena mereka pasti tahu pipiku sedang merah ketika menulis ini. Bukan hanya itu, tapi aku cenderung senyum-senyum terus. Eh, tapi buat kamu yang tahu jangan bilang-bilang ya, aku kan jadi malu.

Belum lagi sekarang aku dengar lagu "The Closer I Get To You" terus aku bertanya, kenapa sih kalau cinta itu harus dekat-dekat? ya iya dong, kalau jauh lagi, nanti aku harus jadi pencuri.

Aku bakal mencuri hatimu lama-lama. Terus nanti aku disalahkan. Aku dituduh untuk mengembalikan hatimu. Padahal jelas-jelas, aku hanya ... oke deh aku ngaku, aku memang ingin hatimu utuh.

Bukan setengah-setengah. Bukan seperempat. Tapi utuh.

Semoga kamu tidak keberatan. Seperti nanti ketika aku pergi, tutup lagi jendelamu rapat-rapat seperti tidak ada apa-apa.

Kamu mengerti maksudku kan?

Manakah yang Paling Tepat?


Lagi-lagi di kepala ini selalu dipenuhi dengan pertanyaan pendek. Begitu random. Seperti yang hari ini bermain-main di kepalaku yang tepat itu “mencintai orang yang tepat” atau “mencintai pada waktu yang tepat.” Ketika pertanyaan-pertanyaan ini muncul di kepala, apa yang hendak kamu jawab.

Terdapat empat subjek : aku, orang yang dicinta, waktu, dan cinta itu sendiri. Semuanya adalah pelaku. Memainkan peranannya sesuai dengan destini. Aku adalah orang yang suka mencinta. Aku punya orang yang kucinta. Aku ada di dalam waktu. Dan aku percaya bahwa cinta itu sendiri ada.

Aku pernah menulis bahwa : kita tidak dapat memaksa cinta untuk menghampiri setiap hati. Karena cinta adalah elemen bebas. Ia terbang, menghampiri/tidak menghampiri hati sesuka hatinya saja. Cinta tidak pernah bisa dipaksa. Sedangkan hati. Kalau aku tidak salah lebih diam. Hati memilih dalam ke’diam’-an-nya. Tapi hati tidak bergerak. Ia seperti pintu : hanya dibuka setengah, dibuka lebar, atau tidak dibuka sama sekali.

Selanjutnya adalah waktu. Waktu sifatnya kekal. Ia memang diam di tempat. Dan dari beratus-ratus tahun yang lalu tidak berubah. Waktu lebih lagi, ia tak punya pilihan bebas. Ia tidak seperti diriku yang bebas, cinta yang sesukanya, atau hati yang walaupun sedikit masih punya pilihan.

Lalu bagaimana dengan orang yang kita cinta? Tidak semua kita punya orang yang kita cinta. Bisa jadi kita hidup hanya untuk diri sendiri. Bisa jadi kita memang hidup untuk kesenangan diri sendiri. Dan tidak perlu orang lain.

Sampai di sini manakah yang paling tepat “mencintai orang yang tepat” atau “mencintai pada waktu yang tepat.”

Cinta Seperti Balon


Teringat nasihat seseorang di masa lalu : “Cinta seperti balon. Dipegang erat : DAR!”

Aku dan Penantian


Terdapat banyak emosi di dalam penantian. Menunggu itu bukan kesalahan. Tetapi jika menunggu sesuatu yang tidak pasti apa itu juga bisa disebut kesalahan? entahlah. Banyak kebingungan, ya. Kebingungan yang menyergap ketika kita ada di dalam penantian. Mungkin itu tadi, kebingungan itu datang supaya kita dapat memilih, apakah kita akan terus menanti atau membuat hati kita berhenti menanti.

Pertanyaannya adalah sedalam apa kamu pernah mencintai seseorang? Jawabannya hanya kamu sendiri yang tahu. Bagi saya pertanyaan sedalam apa? akan dijawab dengan saya mencintai sampai saya tidak lagi mencintai. Rasa cinta saya habis—selesai hanya pada orang itu. Lalu yang tersisa adalah kesetiaan, ketika menanti. Tak ada yang bisa dipegang. Selain setia. Percaya atau tidak, bisa jadi orang yang sedang kita nanti, tidak setia. Ia malah melakukan sebaliknya. Tapi setia kepada cinta itu sendiri, bukankah jauh lebih tinggi nilainya?

Selanjutnya ketika kita tahu yang dinanti ternyata tak sama dengan kita, ada rasa marah. Marah kepada siapa? Marah kepada waktu yang tidak juga berpihak kepadamu. Marah kepada Tuhan sang pemilik waktu. Marah kepada diri sendiri yang ternyata tidak cukup sabar. Atau bisa jadi rasa marah itu datang begitu saja. Mengendap. Membuatmu hanya bisa diam berhari-hari. Selesai itu, segala sesuatu diselesaikan dengan damai.

Senin, 02 Januari 2012

Matematika Cinta


Jika cinta adalah matematika, maka menurutku, cinta adalah nol (0). Jika dikuadratkan, hasilnya akan tidak pernah lebih, tidak pernah kurang. Bila nol dibagi dua, atau dibagi dua juta sekalian, maka hasilnya akan tetap nol. Jika cinta dikalikan, dilipatgandakan seperti itu, maka hasilnya juga akan sama, akan tetap nol. Itulah nol. Sebab nol hanya akan tidak lagi menjadi nol jika nol dikurang-kurangi, jika nol ditambah-tambahkan. Sebab nol adalah memasuki rasa cukup. Bukan sesuatu yang tidak memuaskan. Orang sering menyebut nol sebagai kosong. Itu bukan karena tidak ada harganya, melainkan yang kosong harus diisi dengan makna hidup. Bukan angka-angka di dalam hidup.

“Saat yang paling indah di hidup ini adalah ketika aku merasa cukup. Cinta itu indah, kan?”

Pembenaran


Cinta tidak bisa dibagi-bagi, hanya dapat dikategorikan. Seperti cinta untuk Tuhan, untuk diri sendiri, untuk orang tua, untuk kakak, untuk adik, untuk sahabat, bahkan untuk negara, dan pada akhirnya untuk kekasih. Artinya kita tidak dapat membagi cinta, seperti setengah untuk ibu, setengah untuk ayah. Atau setengah untuk pacar, setengah untuk diri sendiri. Dan cinta itu banyak, pun masih ada di hati banyak orang. Anehnya, saya bisa dicintai banyak orang, namun hanya sanggup mencintai satu orang (kekasih). Namun cinta membuat kita meminta. Meminta dengan sangat. Meminta dengan paksa, meminta dengan melawan. Itulah cinta. Dari manusia kepada manusia.

Terkadang aku (atau mungkin kita) egois. Aku berpikir keras untuk mencari pembenaran (bukan kebenaran) untuk melanggar sesuatu yang sakral. Aku merasa aku cinta seseorang. Karena itu benar, aku merasa benar. Sampai aku menganggap bahwa ada benarnya melakukan hal-hal yang salah. Ya ampun! Seharusnya hati tidak ditambahkan dengan pilihanku sendiri. Sebab hati yang milik Tuhan akan diisi oleh Tuhan. Siapa aku yang mengisi hati dengan tidak bertanya, dengan tidak mendoakan?