Selasa, 27 Desember 2011

Bagaimana caranya kita tahu kita sedang jatuh cinta?


Kau tahu apa itu jatuh cinta? Bila jatuh bukanlah terbang, maka cinta adalah sayap. Tanpa cinta, seseorang akan benar-benar jatuh, dan pasti itu benturan keras. Ia terluka, parah, dan bisa jadi penyakit. Jatuh cinta adalah kehinggapanmu. Bila ada luka karena cinta, kau hanya kebetulan hinggap di ranting yang rapuh. Tetapi cinta membawa kesembuhan, di mana karena rindu engkaupun bangkit.

Apa aku berbelit-belit? Mungkin aku hanya tidak tahu apa yang aku katakan, sementara jari seakan kejang, menekan huruf gila-gilaan. Maka sederhananya, untuk mengetahui jatuh cinta atau tidak, kau hanya perlu berdoa lagi.

Cintaku Untuk Tuhanku


Apa arti Tuhan di mataku? Seindah-indahnya mataku, aku tak cukup layak mengartikan-Nya. Karena Tuhan adalah Tuhan. Ia sungguh berarti lebih dari segala arti yang bisa aku artikan.

Jangan Tuhan mencemburuiku karena aku mencintaimu, bahkan yang lebih parah, menganggap aku menduakan-Nya! Kepada Tuhan aku menyerahkan hidupku, masak hati tidak kuberikan. Karena Tuhan yang penuh kasih itu telah menciptakan cinta, maka siapa aku yang menciptakan cinta menurut aku sendiri?

Sebuah Nasehat

Cinta itu tidak sekadar rasa yang sama-sama dirasakan, lalu selesai. Ada dasar untukmu membinanya bak bahtera. Dengan mudah akan runtuh semua yang telah kau persiapkan, bila hanya dengan berpikir semesra mungkin.

Berdoalah dengan berpegang teguh pada pengharapan! Mungkin ini terdengar kolot, tetapi aku masih percaya bahwa doa adalah satu yang paling mampu menguatkan manusia.

Aku selalu mendoakan kekasihku, bahkan saat kami sedang bertengkar.

Senin, 26 Desember 2011

Peluk Tererat


Matanya pernah berkaca-kaca, kemudian menangis dalam dekapan hanya karena akhirnya menjumpaiku. Bagaimana aku tidak merindu? Sering kukatakan padanya, “Sempatkan diri memeluk aku! Karena nanti, ada banyak waktu untuk aku mengingatmu dari kejauhan.”

Aku pikir ada benarnya. Jika memang nasib harus diadu, semoga ia bisa bersabar di atas tanah! Tidak lelah sebut namaku, di dalam doa dan pula hati! Mendampinginya itu inginku, menemaninya itu harapku. Bila tak erat waktu mengikat hati, biar ia memegang saja jerit hati yang syukurnya mampu terucap jelas, bahwa kepadanya aku kembali. Demikian sesaat sebelum aku pergi, akan kukatakan padanya dengan membisik.

“Kekasih, kaulah peluk tererat yang aku harap sebelum melangkah! Aku mencintaimu.”

Bintangnya Ayah

Aku membayangkan dua bintang yang bercahaya di atas aku, itu tatap bangga sesosok ayah, terang cinta yang seangkasa. Tetiba hamparan sinar yang berkumpul di langit membuatku ingat tetes keringat ayah, itu bebutiran terang tentang betapa aku anaknya yang nakal ini begitu penting bagi hidupnya.

“Kaulah ayahku, tidak ku malu mengakuinya!”

Biar gemetar dua kakiku saat menjauh dari pesannya. Karena beliau ayah yang aku hormati, yang tak terukur jasa-jasanya! Apapun yang akan aku lakukan, aku mengingat ayah, lagi sebagai panutan aku berjuang, pula idola yang kusayangi. Sesungguhnya aku ingin menjadi alas bagi beliau ayahku yang membanting tulang, sementara matanya melotot supaya aku rajin sekolah.

“Wahai ayah yang ibu cintai, kepala keluarga yang aku dengarkan, tebal terpahat di dinding hati, nama yang besar dan itu engkau.”

Senyum Ibu

Ada di balik tatapan ibu, itu adalah aku yang tak pernah dipandangnya buruk. Meskipun karena nakalnya aku, berkaca-kaca matanya itu. Juga kulihat kerut pada kening ibuku, itu ulahku yang sering membuatnya memikirkan hari depanku sepanjang malam. Ibu biasa duduk menungguku pulang. Saat larut malam ibu sudah menguap, namun kantuk tidak melenyapkan aku dalam benaknya.
“Ibu, senyummu adalah hikmat untuk aku melihat sesuatu yang lebih penting, dengan lebih dekat. Kaulah syukur yang tak pernah aku usaikan!”

Wanita Harus Tau


Meski suka sekali disentuh, pria bukanlah mahluk yang super-super peka. Jadi jangan sekali-kali kau membiarkannya dengan ketidaksadarannya. Sentuhlah telingannya dengan kalimat brilliant, sentuhlah matanya dengan tatapan yang dalam dan sentuhlah badannya agar tidak ada wanita lain yang berani memegang! Ketidakpercayaan bukanlah tempat untuk memenjarakan. Egois? Iya. Tetapi egoisitasnya tidak lebih kuat dari air mata kaum hawa. Pria adalah penakut. Takut ketahuan, takut kehilangan. Adalah pujian untuknya, jika kata-katanya mau dipegang.
Hai wanita, adalah suatu kelebihan jika kau hanya sampai dipredikat “mudah sakit hati”. Karena pada dasarnya, pria malah mudah sekali mati. Ia lebih baik disiksa kicauan siang dan malam, daripada dihajar oleh kesunyian. Karena sekali dihajar, pria langsung bisa terbaring dibawah tegak batu nisan.

Jadi berapa kali dalam semalam wanita menjadi gelisah tentang keberadaan kekasihnya? Ya ya ya, gelisah yang ringan tentang kekuatiran bahwa dia bebas melakukan hal yang macam-macam. Tengok Pria! Jika wanita melakukan hal yang sama, pria tidak mau pasrah, tidak hanya gelisah, juga marah. Ia akan mencarimu sampai ke antah berantah. Dipikirannya bukanlah rasa takut pada penghianatan, tetapi sebuah teori yang mengatakan bahwa wanita adalah mahluk lemah yang selalu diincar godaan.

Sekarang tunjuk tangan jika ada yang merasa hatinya retak terpukul perbuatan pria! Okay, kamu! Lihatlah, jika kau melakukan perbuatan yang sama terhadapnya! Apa yang hati retak itu bisa melihat jari tangan pria yang mengacung, mengaku kalah? Tidak? Ya, kau pasti hanya melihatnya tetap girang. Sekarang jangan bilang siapa-siapa! Di dalam sakunya, tersembunyi telapak tangan yang meremas kepingan hatinya yang terus menerus merasa bersalah. Kecerobohanmu dianggap sebagai kelalaiannya. Jadi tidak heran, jika seuntai tawa hanyalah sebuah benteng gengsi yang tanpa celah sampai-sampai kesedihannya menjadi tak kasat mata.

Memang aneh jika pria suka pada kebebasan, sekaligus rindu pada mulut cerewet yang cemburuan. Jadi demi menghindari suara hantu yang memanggang kepalamu yang melayang. Aku menerawang.
“Wanita, kau hanya perlu mengenalnya dalam-dalam”.

Ini bukanlah ajakan untuk anda berpikir tentang siapakah yang paling lemah. Tetapi tentang mengapa Adam dan Hawa harus saling menjaga, saling menguatkan.