
Kadang, disaat seperti ini aku ingin berjarak hanya sehasta darimu. Demikian ingin aku menjagamu dari air mata. Aku hanya mengenalmu melalui lini masa. Katakan aku terlalu mudah jatuh cinta. Entah, sakitmu aku juga merasa.
Aku ingin menemuimu. Lantas menangislah sesuka hati. Aku tak ingin tangis ini terjadi lagi. Seperti apapun, mereka melihat yang tampak. Tiada menyingkap apa yang bersembunyi. Kau adalah yang setia menanti. Entah, aku hanya tidak menyukai drama ini.
Semenjak aku mengenalmu melalui kata, lini masa tidak pernah seperih ini. Biarlah aku tenggelam dalam bayangmu. Akan jauh lebih baik dibanding larut dalam kesedihanmu.
Bagimu, aku adalah satu diantara puluhan ribu. Bagiku, kau puluhan ribu berlarian di kepalaku.
Sekeras apa aku mencoba, aku tidak akan pernah bisa. Sekeras apa aku, ingin kucoba, untuk tetap selalu ada. Lini masa ini mulai berjalan lambat. Degup jantungku berderap cepat. Pada tiap kata melintas, kuharap airmatamu tak terlepas. Setinggi gunung hambatan, selebat hutan rintangan. Memulihkan hatimu, seperti pekerjaan yang takkan lekang oleh waktu.
Kau miliki banyak teman, kau mengenal banyak kawan, kau miliki satu hati. Tolong, jangan biarkan ia retak kembali..
Mungkin aku tidak akan pernah nyata dihidupmu. mungkin kau ‘kan tetap fana di linimasa. lantas, kenapa sakit ini benar terasa?
Sejenak aku ingin melipat waktu. Mengenalmu, lantas sembunyikan detik agar tak berdetak. Agar kamu, tercitra di mataku.
Kepalaku sakit. Hentikan ini..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar