Kamis, 16 Februari 2012

Sentak Pembohong


Akhirnya aku tersenyum lagi, senyum yang kecil, senyum yang sama yang pernah kulempar untukmu. Seharusnya aku lebih berekspresi, sebab kebohongan ini amat menyentak. Aku ingin melangkah mundur sambil memberimu tepuk tangan. Kau hebat. Ini panggungmu, tempatmu, sementara aku terlampau merasakanmu.

Terkadang, pengakuan adalah pukulan yang telak. Terima kasih, setidaknya setelah aku ketahuan, kau tidak menyangkal. Sekarang aku harus bagaimana? Kenyataannya ternyata, hatiku yang berbicara dengan otakmu.

Aku tidak tahu harus bagaimana sekalipun aku tahu aku salah. Orang yang salah patut dihukum sebelum pintu maaf terbuka lebar. Namun hukuman apa yang pantas untuk pembohong? Beri tahu aku apa! Aku tidak mungkin hanya sekadar menghujan sumpah, sebab kata-kata kutuk tidak seharusnya keluar dari mulutku. Mungkin suatu hari, saat kau telah menggenggam segala keinginanmu, kau hanya akan bertanya aku di mana, sambil menyiksa diri sendiri.

Familly


Keluarga adalah pintu yang paling terbuka lebar di saat aku terpuruk dan susah.

Rabu, 15 Februari 2012

Heart In Waiting


Cinta akan indah pada waktunya.

Ini yang aku rasakan. Pernah dengar istilah evaluasi hati? mungkin kamu pernah dengar tapi belum pernah coba untuk melakukannya. “Evaluasi Hati” adalah istilah yang biasanya aku gunakan ketika, aku hanya ingin sendiri “mendengarkan” hati.

Tetapi sebelum bisa “mendengarkan” hati. Aku mengobrol dengan beberapa orang yang sekiranya punya pemikiran dan masukan yang bagus untuk masalah yang sedang kuhadapi. Selanjutnya yang aku lakukan adalah aku akan duduk. Tenang. Mendengarkan hati.

Hati tidak bisa dibohongi. Ia seperti seorang sahabat, yang tidak hanya akan mendengarkan ceritamu. Ia mampu bicara. Ia mampu berbisik tentang nasihat yang ia rasa paling baik untukmu. Ia tidak akan membiarkan kamu jatuh. Ia tidak akan membiarkanmu melakukan kesalahan.

Ia begitu sederhana. Yang perlu aku dan kamu lakukan adalah mendengarkannya.

Untuk kasus tertentu, aku memilih untuk mendengarkannya. Walaupun dalam banyak hal, aku ini anak bandel dan suka semaunya sendiri. Tapi tidak kali ini. Kali ini aku musti taat. Dan mau mengalah untuk mendengarkan hati yang sebenarnya.

Aku pernah menulis begini : “kenapa musti takut patah hati? karena patah hati sebenarnya mengajarkan kita supaya lebih jago membalut.” Tetapi waktu itu, mungkin di hatiku masih terlalu sedikit borok. Belum terlalu banyak. Aku masih sanggup untuk membalutnya.

Tapi apa yang akan kamu lakukan jika borok di hatimu sudah begitu banyak? dan kali ini kamu kelabakan.

Saranku, berhentilah sakiti hatimu sendiri.

Cobalah sekali-kali ajak hatimu mengobrol dan dengarkanlah dia.

Lebih baik menunggu waktu yang tepat, supaya bertemu hati yang tepat.

Sampai di sini, akhirnya aku mulai mengerti sedikit tentang kalimat “jagalah hatimu dengan segala kewasapadaan, karena darisitulah terpancar kehidupan.”

Aku dan kamu punya sebuah tugas untuk menjaga hati kita masing-masing. Bukan malah menitipkannya sembarangan kepada orang lain.

Selasa, 14 Februari 2012

Rintik


Rintik hujan begitu tipis.

Mengganggu pemandangan kita. Yang sedang saling bergandengan tangan, pipi bertemu pipi, menginginkanmu dengan sangat. Tidak ada toleransi tentang ini.

Dan saat ini kita saling bertatapan, kamu bisa melihat bening mataku dengan jelas bercampur dengan air mata, bahkan air mata ini pun menginginkanmu dengan sangat. Aku menginginkanmu! dengan seluruh jiwa dan air mata.

Kamu tertawa. Tawa yang khas. Tawa yang selalu buatku bahagia. Di sana aku bisa melihat mata kamu yang biasanya sendu begitu ceria. Karena mata itu yang membuatku begitu jatuh cinta. Aku memilih mata itu dari semua mata yang pernah kutemui. Kenapa? ah, jangan pernah tanya kenapa. Jatuh cinta titik. Tidak pernah aku kepikiran alasan yang lain.

Kamu bingung. Melihatku dengan tatapan bertanya seperti “kok bisa?” Tentu saja “bisa” begini: seperti rintik hujan tipis di luar, kenapa mereka memilih untuk jatuh?

Dan kali ini, kamu memandangku dengan tatapan semakin aneh. Kamu bilang bahwa aku gila. Aku adalah orang gila yang mungkin terlalu jatuh cinta kepadamu. “MUNGKIN?” spontan aku meneriaki kata itu keras diantara hujan tipis dan jaket serta pakaianmu yang kini mulai basah.

Tak ada kata “MUNGKIN” ketika aku bilang cinta kepadamu. Kecuali jika kamu sendiri yang tidak percaya.

Terserah.

Lalu kamu masih melongo dengan binar mata yang sama.

“Boleh aku cium mata kamu?”

Kamu mengangguk.

Senin, 13 Februari 2012

Bermimpi Ribuan Kali


Rasa sering bertabrakan dengan keadaan, bahkan keinginan. Sesampainya apa yang diinginkan adalah apa yang dirasakan, mungkin barulah itu. Namun untuk menunggu cinta dan keinginan melebur menjadi satu, mungkin aku harus bermimpi ribuan kali.

Beri Aku


Apa yang dari kamu bisa tidak memuaskan, tetapi berikanlah aku apa saja, entah itu masakan, entah itu sepatu, entah itu baju, apapun itu, pilihlah untuk aku, karena yang dari kamu setidaknya tidak mencelakakan.

Ariel - Dara


Dalam benak selalu bertanya. Apa yang Ariel pikirkan ketika mencipta lagu Dara?

Mungkin banyak dari kita dan termasuk aku, yang mengecam perbuatan Ariel kurun beberapa waktu lalu. Tapi kini mungkin semua telah berbeda. Aku tidak ingin masuk kepada golongan orang yang terus-terusan mengingat kesalahan orang. Pernah ku katakan,

"Aku ini bodoh, tetapi orang bijak memberi maaf."

Aku salah satu orang yang percaya dengan kesempatan ke-dua. Dimana orang yang bersalah dan telah menjalani hukuman, layak untuk dimaafkan.

Kembali lagi pada lagu tersebut. Ada makna yang dalam dalam lirik lagu Dara. Makna bahwa seseorang ingin mencintai dalam keheningan. Seperti aku yang tidak ingin mencintaimu seperti berada dalam arena.

Ariel Peterpan - Dara

Jangan-jangan kau bersedih
Ku tahu kau lelah
Tepiskan ke ujung dunia
Biarkan mereka-mereka
Tenangkan hati di sana

Ketika lelah
Mimpi yang menenangkan
Biarkan semua-semua

Kurangi beban itu
Tetap lihat ke depan
Tak terasingkan dunia
Dua jiwa yang perih
Masih ada di sana, untuk kita berdua
Dalam hati yang bersatu
Tempat kita berdua

Dan jangan kau bersedih
Kutahu kau lelah
Tepiskan ke ujung dunia