Kamis, 09 Februari 2012

Telah Kujumpai


Telah kujumpai yang indah-indah tetapi bukan kamu. Aku tidak bodoh dan mengatakan mereka buruk, tetapi aku tidak lemah dan mencintai mereka.

Berat Hati


Tertuang di dua mata.
Terlalu banyak, sampai tumpah basahi pipi.
Terpaksa tangan harus terangkat, mengusap lagi tetesan sayang.

Berat hati menahan, tetap waktu melaju.
Hendak mengadu nasib, langkah teriring doa.
Mungkin rindu menumpuk, namun tak harus murung.

Dia di seberang laut.
Kita di bawah langit.
Cinta di atas bumi.
Mimpi di tengah-tengah.

Beri Aku Tanda


Kadang, tanda tanya dari seberang situ membuat titik dua tutup kurung buat sini

Kadang, tanda seru berbaris dari situ dengan kapital membuat titik dua petik dan buka kurung. Sini terkurung dalam murung

Kadang, demi membuat titik dua tutup kurung untuk seberang situ, disini menabung ribuan tanda tanya

Kadang, ketiadaan tanda dari seberang situ, membuat titik titik di dalam sini, dan lalu turun titik dari mata, memberi tanda ke tanah

Beri aku tanda. Aku perlu tahu kamu ada.

Senyum Sederhana


Suara yang indah itu berasal dari senyum yang sederhana. Tidak ada keluhan sama sekali.

Senin, 06 Februari 2012

Bintang Jatuh


Saat bintang jatuh, yang aku pikirkan hanyalah apakah bintang itu terluka parah. Maka harapanku, semoga bintang itu baik-baik saja.

Melupakan Bayang-Bayang


Bagaimana melupakan seseorang, itu pertanyaan konyol yang selalu aku dengar. Dengar! Kita manusia memiliki kemampuan untuk melupakan, tetapi sekali lagi sampai berbusa mulut mengulang-ulang, bahwa yang terpenting bukanlah kita harus melupakannya, tetapi bagaimana kita tidak harus mengingat-ingatnya.

Aku pikir kita bukan tidak bisa, tetapi tidak ingin, atau jangan-jangan tidak siap. Saat kita merasa sakit, yang kita pikirkan hanyalah “andai rasa sakit ini bisa sembuh dalam sekejap.” Kau tahu, untuk menerima suatu kesembuhan, semuanya perlu proses, sebab waktu perlu berjalan. Jadi jangan karena kita tidak lupa mengingat seorang hari ini, kita jadi melupakan hari esok. Itu saja.

Aku tahu, memang menyebalkan saat mengetahui bahwa masih dia saja yang terbayang setiap malam. Tapi paling tidak, jika kita memiliki aktivitas atau hobi tertentu, aku rasa bayang-bayangnya bisa perlahan-lahan teralihkan. Karena itu saja masalahnya. Yaitu bukan karena kita tidak bisa melupakannya, melainkan karena kita kesepian dan memandangi kesendirian dengan terlalu serius.

Beliau


Beliau menua, tulangnya tak sekuat dulu, matanya tak lagi awas, rambutnya pun kian memutih. Ingin kupeluk beliau erat, seerat dulu aku digendong.

Aku anak yang nakal, yang kadang tak ingat pulang. Kupikir Tuhan begitu baik, ada aku diam di rumah. Kulihat kerut pada keningnya, masa depanku yang terpikirkan. Beliau duduk termenung tenang, mendoakanku di dalam hati. Beliau menatapku dengan sumringah, matanya seakan memberi perintah.

“Sini peluk ibu, selagi ibu masih bernafas!”