Aku suka hujan. Tapi tidak kali ini. Aku benci hujan. Aku menyumpahnya dalam-dalam. Kenapa ia harus turun ketika kamu tidak di sini. Kamu tidak duduk bersamaku. Padahal biasanya kamu ada di sana dengan senyuman manis dan mata teduhmu.
Kita akan mulai menatap hujan. Kaki-kaki mungilnya menyentuh jendela. Mata beningnya dengan bulu mata panjang. Lalu baju yang berwarna-warni. Ya, kita berdua suka tertawa-tertawa sendiri kalau sudah begitu.
tak ada lagi cinta sayang.
mereka telah habis ditiduri rayap dan penat
lalu senyummu mulai patah di dedaunan.
lunglai di rerantingan
Biasanya setelah itu kita duduk-duduk sampai larut. Kamu membuatkanku secangkir teh panas. Kamu selalu punya banyak cerita. Aku punya telinga. Kamu selalu punya keluh. Aku punya peluk. Kamu punya cinta, mungkin tidak banyak. Tapi aku punya hati sangat besar untukmu.
Haha. Ini bukan tulisan gombal. Aku serius. Sini, lekatkan kupingmu di antara denyutan nadiku. Kamu bisa mendengarkan mereka dengan sempurna. Bahkan denyut nadiku menyebutkan namamu.
“Kamu itu lelaki gombal.”
“Tapi kamu suka, aku gombali.” Balasku dengan senyum dikulum.
“Janji, hanya aku yang kamu gombali?”
“Hmm. Tergantung sih.” Aku masih menggodanya.
“Kelak aku mungkin tidak bisa duduk berdua lagi denganmu seperti ini.”
“Begitu. Kita masih bisa bertemu. Hubungi aku, aku akan meninggalkan semuanya demi dirimu.”
“Tuh, kan digombali lagi.”
***
terbawa angin sendu
aku tak ingin menangis (lagi)
biarkan air mataku sembunyi
mendungnya tergenangi
Aku suka hujan. Tapi tidak kali ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar