Selasa, 31 Januari 2012

Surat Cinta Untuk Ibu


Ibu, masih ingat terakhir kali kita bertemu?

Sekitar 3 bulan yang lalu ketika aku pulang ke rumah. Waktu itu ibu berdiri di sana. Dengan senyum yang khas. Tawa yang khas. Dahi yang sedikit berkeringat. Tapi itu tidak membuat aku undur untuk berlari dan mencium pipi. Memeluk tubuh. Ibu tidak terlalu kurus seperti ketika terakhir kali kita bertemu. Waktu itu ibu sedang menunggui adik. Dan ketika aku sampai terlambat, Ibu menunggu aku di depan pintu. Hanya supaya memastikan aku baik dan sampai dengan selamat.

Karena jarak yang memisahkan, kami biasanya hanya mengobrol di telepon. Ibu terkadang menelepon hanya untuk menanyakan aku sedang dimana dan bilang hati-hati di ranah orang. Aku lebih tidak penting lagi menelepon hanya untuk bertanya hari ini sedang memasak apa.

Ibu selalu berpikir aku masih anak kecil suka lupa bawa handuk ketika mandi. Padahal aku sudah dewasa dan sudah tahu apa itu jatuh cinta dan patah hati. Banyak keputusan salah yang pernah aku lakukan. Tapi Ibu tidak pernah ngejudge. Ibu selalu mendukung.

Aku suka sekali ketika ibu memanggilku dengan “Tole” dan aku suka sekali memanggil ibu dengan “Bu'e”. Hubungan kita seperti kekasih. Tapi tentu saja cinta ibu padaku lebih dari sekedar seorang kekasih. Karena ibu punya kekasih dan itu adalah ayah.

Tidak ada yang mencintaimu seperti seorang anak kecil, sampai mencintaimu seperti pria dewasa. Hanya ibu yang bisa melakukannya. Dan aku mencintai ibu seperti apa? aku tidak tahu. Yang aku tahu, aku punya ibu yang keren. Kelak anakku punya nenek yang keren.

Ibu sedang apa? sekarang aku tambah gembur.

Selasa, 24 Januari 2012

Tidak Dicintaimu


Karena aku sudah terlanjur mencintaimu, seperti rahim yang tak mungkin menelan lagi anaknya. Sekalipun laba-laba telah membangun sarangnya dalam hatimu, sesungguhnya aku tidak ingin keluar atau biarlah di dalamnya aku disekap! Dengan nafas yang terengah-engah, teriring isak yang tersandung-sandung di tenggorokan, inilah aku yang betapa ingin membangkitkanmu yang tergeletak. Mungkin ini garis terberat aku mencintaimu. Ada baiknya aku memohon ampun, mengakui kelemahan, menjunjung tinggi belas kasihan dan tak lupa berterima-kasih. Sayang, aku tidak hanya ingin sekadar ada, tetapi siap dan lagi bisa. Bila lengah mata melihat atau lelah pundak memikul, ketahuilah langkahku tetaplah engkau!

Aku ingin terlempar untuk membentur bola matamu, lalu terus menggelinding di atas tiap esokmu. Bagiku, wajah yang dipukul telak masih lebih ringan daripada tidak dipeluk kamu di saat-saat seperti ini. Karena tidak dicintaimu adalah sesuatu yang baru, yang membuatku merasa asing di antara segala hati yang membuka pintunya.

Di dalam tubuhku, di dalam hidupku, kaulah darahku, alasan degup jantungku! Kini aku merasa bahwa hatimu telah menelanku hidup-hidup. Apakah aku melantur? Tidak. Aku hanya takut menjadi bangkai di dalam hatimu. Itu saja.

Aku Ingin


Aku ingin lebih mengerti artinya hidup, ingin lebih paham nikmatnya mati dan ingin sempat membahagiakanmu.

Jumat, 20 Januari 2012

Apa Kau Suka?


Apa kau suka bila orang-orang menyebutmu jelek untukku menuduh mereka buta?

Semangat!


Apa boleh buat.. Keberuntunganmu tidak diperuntukkan di segala tempat, bukan? Tersenyumlah, Anak Manis! Ini waktu untukmu benar-benar merasakan nikmat sensasi suatu kegagalan. Nanti kelak di puncak mimpi, ada banyak yang kamu kenang.

Tetaplah percaya diri dan bukan menipu diri. Kamu tidak harus berkata, “aku pasti bisa!” Sesekali kamu boleh berseru dengan bangga, “aku tidak bisa!” Karena membuat bangga adalah perjuangan. Kamu perlu membanting tulang, bercucuran keringat atau mungkin menumpah darah. Begitulah hidup dan pernak-perniknya. Ada masa di mana sesaat sebelum keberhasilan, itu mungkin saat yang menegangkan.

Semangat!

Rabu, 18 Januari 2012

Kangen


Ya, bisa jadi aku kangen.

Kalau sudah begini, yang aku lakukan adalah menghayalkanmu. Menghayalkan setiap detail yang aku ingat tentang kamu. Lalu aku merasa kalau kangen itu seperti kumpulan cerita lalu yang dikumpulkan kembali di masa kini.

Aku sempat bertanya, kenapa kita tidak pernah kangen “masa depan.” Lalu aku berpikir bahwa kangen itu memang sengaja diciptakan, ketika kau ingin mengumpulkan kembali gambar-gambar kecil yang pernah kau alami untuk diingat.

Kangen itu hal remeh, yang akan membuatmu beryukur dalam-dalam kau memiliki seseorang. Lalu, apa hubungannya gerimis tipis pagi ini dengan rasa kangenku. Jawabannya, aku ini laki-laki yang mengagumi hal sederhana dan mungkin terlalu sentimentil saja.

Mungkin hanya sekedar mengingat warna jilbabmu, balutan baju, wangimu. Aku suka wangimu, itu yang membuat aku betah berlama-lama duduk begitu dekat denganmu. Karena wangi tubuhmu.

Aku norak. Mungkin. Tapi aku suka. Perasaan suka ini yang akhirnya membuat aku jujur kepada diri sendiri. Lalu menuliskannya di sini. Bukan hanya itu, yang bikin aku kangen adalah duduk lama-lama lalu bercerita tentang hal-hal bodoh..lalu tertawa kencang-kencang denganmu.

Ya, denganmu.

Kau dan aku, terbahak-terbahak. Itu perasaan yang paling membahagiakan. Aku adalah laki-laki yang tidak akan berhenti menertawai kebodohanku sendiri. Begitulah, dan aku harap kau tidak bosan. Bercerita dan bercerita, sampai mulutku sendiri capek.

Karena entahlah, mungkin karena aku sudah mulai merasa nyaman. Kau buat aku merasa begitu. Dan aku suka sekali perasaan nyaman itu. Kau juga harus mengetahui satu hal, ketika aku menulis ini, aku sedang banyak memikirkanmu akhir-akhir ini.

Aku memikirkan, mungkin suatu saat kita bisa bersama.

Ini semua karena kangen. Lalu kini, aku menyalahkan rasa kangen ini. Karena begitu kau tidak ada, aku mampu mengingat semua detail tentangmu. Detail yang membuat senyum kecil. Entahlah senyum kecil ini sampai kapan?

Aku, kangen.

Pelajaran Untuk Mengagumi


Adakah pelajaran mengenai cara tuk mengagumi? Terkadang pengagum mudah kecewa ketika ia sadar bahwa yang dikaguminya juga manusia.